-- Jasmin, Kenalan yuk... ;)
(Coba2 bikin serial ) 
Hai, namaku
Jasmin. Lengkapnya Jasmin Mumtaza. Nama yang cukup manis bukan? Semanis
artinya, Melati yang istimewa. Hehehe… paling nggak, manis ditelingaku lho..
(Dilarang protes!
). Lumayanlah… setiap kali berkenalan aku gak perlu
menyebutkan nama lengkapku, cukup panggil aku Jasmin. Simple kan? 
Aku baru aja
pindah sekolah. Tamat dari sebuah SMP Islam sekaligus pondok pesantren di
daerah Jawa Barat, dan sekarang akan menjadi santriwati di pondok pesantren
salafiyah. Namanya pondok pesantren salafiyah
Noor el Hakim, Nusa Tenggara Barat. Jauh ya? Ahh biasa aja tuh.. karena memang
asal orang tuaku dari sana. Tepatnya pulau Lombok. Pulau yang menurutku jauh
lebih indah dari pulau tetangganya, Bali. Still yakin aja, padahal menginjakkan
kaki ke Bali aja belum, dan ke kampung kelahiran orang tuaku ini juga baru kali
ini, sejak aku lahir. Xixixi..
Semula aku gak
terlalu faham apa bedanya pondok pesantren salafiyah dengan pondok pesantrenku
sebelumnya. Ternyata oh ternyata.. salafiyah itu maksudnya tradisional. Jadi
gak pakai kurikulum seperti sekolah–sekolah biasa, dan gak ada kegiatan yang
agak-agak modern seperti drumband, yang aku ikuti di pesantrenku dulu. Duh..
bisa betah gak ya disini? Aku memandangi para santriwati dari balik jendela
rumah Abun* ( *Panggilan buat pak
kyai, pengasuh pesantren ini), ketika Abah dan Umi sedang membicarakan soal
kepindahanku kesini.
Hmm rasa-rasanya
sejak kecil aku sudah terlalu sering merasakan dan tinggal disuatu tempat yang
baru. Jadi ketika untuk pertama kalinya, akan menjalani kehidupan sebagai
seorang santri baru disini, aku cuma bisa berfikir untuk menjalani aja seperti
biasanya. Beradaptasi.., syukur-syukur betah, kalo nggak, ya tinggal keluarin
jurus ampuh aja ke Abah nanti, yaitu… Nangis!
Karena Abun
melihat aku datang dari jauh, dan masih belum tau akan menempatkanku di kamar
yang mana, maka aku dititipkan dulu dikamar Mudabbirot*
(*Pengurus). Aku Cuma bisa cemas-cemas gitu deh.. mudah-mudahan aja
mudabbirotnya baik-baik semua, aminn.. Do’aku terkabul, kak Hilyati, kak Eenk
dan kakak-kakak mudabbirot dikamar ini ternyata baik-baik. Apalagi kak Rukmini,
kakak mudabbirot yang berasal dari Sumbawa ini orangnya putih, kalem, dan
mungil. Tapi ternyata dia adalah ketua mudabbirot lho.. kecil-kecil cabe rawit
rupanya.. setiap kak Mini (panggilannya) jadi imam sholat, aku senang sekali.
Suaranya bagus, bacaannya fasih, orangnya cantik.. lengkap sudah untuk jadi
istri solehah. Hehehe..
Karena salafiyah
itulah, maka pondok pesantren yang aku masuki ini benar-benar beda dengan
pondokku sebelumnya. Disini, santri putri dan santri putra beda asrama (ya
iyalah..), dan beda kelas. Maksudnya, dikelas isinya cuma santri putri semua.
Jadi semua kegiatan yang kami ikuti disini, gak pernah bercampur dengan santri
putra. Hmm… gak ada lagi deh acara lirik-lirikan saat ngaji kitab kuning,
seperti yang dulu pernah aku alami. Hehehe..
Pertama-tama
masuk kelas, (aku disini jadi santri ‘aliyah alias SMU) rasanya asik-asik aja..
gak ada santri putra, artinya.. aku gak akan malu-malu banget deh kalo lagi gak
ngerti sama satu mata pelajaran, apalagi pas lagi ngantuk dan ketauan tidur?
Fiuhh amannn….
eh tapi ternyata lama kelamaan.. segalanya gak seasik yang
aku kira. Karena satu kelas isinya ada 35 siswi, cewek semua.. dan, kebanyakan
masih satu daerah.. (pengumuman, disini cuma aku yang datang dari jauh) setiap
harinya suasananya rame, bising.. apalagi kalo ustadz belum masuk, wuihh itu
cewek-cewek.. ada yang sampe duduk di atas meja lho!
Tentang ustadz-ustadz
alias guru cowok yang mengajar disini, smuanya baik-baik. Aku paling suka sama
ustadz Kadir yang mengajar Aqidah akhlak, dan ustadz Musleh yang mengajar
Nahwu. Padahal pelajaran Nahwu adalah pelajaran yang paling susah buatku, waktu
di smp dulu. Di pondok modern sebelumnya. Oalah kok ya disini pelajaran Nahwu
ini jadi pelajaran yang lumayan mengasikkan juga ternyata. Ustadz Musleh pintar
cara mengajarkannya. Dari beliau juga aku dapat satu amalan, yang sampai
sekarang masih tetap rutin kubaca setiap habis sholat subuh dan maghrib. Yaitu
ayat kursi, 2 ayat sesudah ayat kursi, dan 3 ayat akhir al-baqoroh. Kelak.. aku
akan ceritakan manfaat dari amalan yang terus kubaca ini, ketika akhirnya aku
bertemu dengan suasana mistis di pulau Nusa Tenggara ini.
Disini,
kelas-kelas ada di lantai 2. Dibawahnya adalah kamar-kamar para santri. Jadi bisa
dibayangkan, kalo pagi sampai siang hari suasana di lantai 2 yang ramai. Nah
setelah pulang sekolah sampai jam 10 malam, lantai bawah yang ramai. Meskipun
setelah jam 10 malam masih ada beberapa santri yang tetap duduk untuk
tadarusan, tapi lebih banyak tenangnya deh suasana dimalam hari. Tenang? Duhh..
siapa bilang tenang? Aku pernah lho, dengar suara-suara ramai seperti sedang
ada upacara bendera di halaman sekolah, tepat jam 2 malam! Tapi ceritanya nanti
aja ya, sekarang aku masih menjelajahi bangunan fisik pondok baruku dulu.
Bangunan pondok pesantren Noor el Hakim ini terbagi dua. Satu disebut Pondok
Timur, karena adanya di sebelah Timur (orang-orang disini terbiasa menyebut
letak suatu tempat menggunakan arah mata angin) Dan satu lagi, Pondok Barat.
Pondok Barat letaknya lebih dekat ke asrama putra. Kalau Pondok Timur, letaknya
lebih tertutup, dan disinilah aku akan menetap. Oiya, kalau di Pondok Timur,
kami lebih dekat dengan rumahnya Abun, tapi di Pondok Barat juga ada
perwakilannya Abun, yaitu tuan guru* Muharrar, yang pembawaannya masih lebih
ramah daripada Abun. Kalau Abun Shofwan lebih pendiam dan jarang langsung
menatap kami ketika sedang mengajarkan Tafsir Jalalain.
Kamar mandi! Satu
lagi yang belum aku sebutkan. Disini kamar mandi atau tempat santri mandi
terbagi menjadi tiga tempat. Yang pertama, kamar
mandi yang terbagi-bagi menjadi 10 pintu. Ke-2, sumur besar berdiameter …. Mmm..
berapa ya? Sumurnya gede banget. Mungkin diameter 10 meter kali? Mandinya
gimana? Wah ternyata disini santrinya mandi rame-rame. Pertama kali kesini aku
kaget lho.. gara-gara kamar mandi yang cuma 10 pintu itu semuanya penuh, aku
coba lihat yang ini,.. wuihh andai aja aku bukan cewek… heuheuheu.. Dan kamar
mandi yang ke-3, yah sama saja.. masih berbentuk sumur juga, trus mandinya juga
masih rame-rame juga… ahhh gak jadi ahh.. mending aku mandi kesorean deh
daripada harus mandi rame-rame.. xixixi.. itu artinya… besok aku harus bangun
cepat supaya kebagian kamar mandi yang satu orang satu tempat itu. Hhh… sip
deh.
Jasmin menikmati suasana baru disana. Selama masih tinggal bersama kakak-kakak
pengurus Jasmin begitu merasa disayangi. Belum banyak interaksi Jasmin dengan
santri sebayanya, apalagi santri sekelasnya. Tapi Jasmin akan punya sembilan sahabat baik pada akhirnya. Cuma satu yang membuat Jasmin
kurang betah… apa tuuuh? Kita Tanya Jasmin aja besok ya? …
dadaaah...
Kamus
Abun = Bapak
(bhs Arab) Panggilan buat pak kyai, pengasuh pesantren.
Mudabbirot = Pengurus)
Tuan Guru = sama saja dengan Kyai. Suku Sasak
biasa menyebut Tuan Guru untuk guru ngaji yang sudah berhaji, dan biasanya juga
memiliki pondok pesantren.
Posted by bunayya
3 koment, tengkyuu











![Validate my RSS feed [Valid RSS]](valid-rss.png)
chia (guest)

korina
syukur (guest)
