Jasmin, ... hari-hari baru di Pondok ;-) Part II
Denah Pondok Pesantren Noor el Hakiem Jasmin.
Secara fisik, bangunan Pondok ini gak masalah buatku. Meski jelas berbeda dengan Pondokku di Jawa dulu. Dan perbedaan itu juga ada pada mata pelajaran dan jadwalnya. Di Pondokku yang dulu, mata pelajaran agama khas Pondok dipelajari terpisah dengan mata pelajaran umum. Jadi, siangnya aku tetap sekolah seperti Sekolah Menengah Pertama biasa, sedangkan pelajaran-pelajaran khas pesantren harus kami ikuti pada pagi harinya, mulai jam 8 pagi sampai menjelang Dzuhur. Namanya Diniyyatul Wustho untuk kami yang tingkat Tsanawiyah (setingkatSMP), dan Diniyyatul ‘Ulya untuk kakak-kakak yang ‘Aliyah (setingkat SMA).
Nah.. untuk sekolah Diniyah ini nih… yang seringnya malas diikuti. Aneh ya.. namanya juga pesantren, kok ya malah malas sama pelajaran kitab-kitabnya
. Disini karena Pesantren Salaf.. jadi ya disekolah sudah full juga dengan mata pelajaran khas sebuah pesantren seperti Aqidah akhlak, Nahwu, Shorof, Fiqih, Bahasa Arab, dan lain-lain dan sebagainya.
Jadwal harianku sejak bangun tidur adalah sholat Shubuh, ngaji kitab sampai jam 6, lalu siap-siap untuk sekolah pada jam 7. Pulang sekolah siap-siap sholat Dzuhur, makan siang trus leyeh-leyeh sebentar sambil menunggu jam 2 untuk ngaji kitab lagi sampai Ashar. Baru deh.. datang yang namanya waktu favoriteku yaitu dari habis Ashar sampai hampir Maghrib, bebas dan santai. Hehehe…
Habis Maghrib? Ya ngaji kitab lagi sampai ‘Isya, trus habis ‘Isya adalah waktunya mudabbirotpunya gawe. Segala jenis persidangan berlangsung dimalam hari. Segala bentuk pelanggaran yang kami lakukan seharian tadi, malamnya langsung dapat sangsi dari mudabbirot. Yang melanggar bahasa, akan dipanggil oleh Qismul Lughoh.. yang tadi siang ketemuan sama santri cowok, atau ketauan surat-suratan, siap-siap dipanggil Qismul ‘Amn.
Ngomong-ngomong,.. tadi namaku juga disebut sama Qismul I’lan lho... Tapi bukan untuk disidang, melainkan… mmm.. aku sudah waktunya pindah kamar. Dari kamar mudabbirot ke kamar santri biasa. Dan alhamdulillahnya, kakak-kakak mudabbirot memindahkanku kekamar Az-Zahra 3. Asyiikk… aku bisa bareng sama Loen, teman sekelasku yang baik dan rada bawel itu. Hehehe..
Dia juga senang sekali waktu aku datang ke Az-Zahra 3 sambil bawa barang-barangku.
“Lho, Jas… pindah kesini ya? Asyiikk… kita bisa cerita-cerita dong tiap malam sebelum tidur?”
Kujawab dengan senyuman lebar sambil ngos-ngosan… Loen pun langsung meraih beberapa barang-barangku dan membantu merapikannya di lemari kosong yang sudah tersedia. Alhamdulillah.. urusan kamar sudah beres. 
Tentang makanan Pondok, sebenarnya aku juga oke-oke aja sih. Cuma satu yang aku gak tahan.. disini lauknya selalu [always dan and tidak pernah never is adalah] Pedas!
Mau terong tumis.. pedas, mau sayur kangkung.. pedas, mau semacam perkedel.. juga pedas. Gak ada pilihan dan gak ada konfirmasi dulu. Masalah ini nih.. yang sering membuat aku terkangen-kangen lagi sama Pondokku dulu. Kalau saja jarak antara Pondokku ini cukup dekat sama rumah.. mungkin ummi akan datang membawakan lauk-pauk kering seperti waktu aku mondok di Jawa dulu.
Dulu, Ummi dan Abah biasa menjengukku setiap satu bulan sekali. Disini? Mana bisa.. jarak tempuh dari Jakarta ke Lombok aja sudah memakan waktu tiga hari dua malam. Yah, berhubung kami bukan dari keluarga yang berada, maka transportasi yang selalu Abah pakai setiap kali pulang kampung kesini adalah dengan bis umum.
Abah termasuk orang yang cukup keras mendidik anak-anaknya. Meski dulu tempat mondokku lumayan dekat (Jakarta-Bogor), tetap aja aku gak boleh dan gak bisa izin seenaknya. Kalaupun dari pihak pesantren mengizinkan, belum tentu Abah juga membolehkan. Bahkan Abah sampai-sampai pernah melarang keras aku untuk pulang, walau karena sakit sekalipun.
“Abah gak izinkan kamu pulang, kalau belum sekarat!”
Ihh.. tega ya? Tapi jangan kuatir.. meski Abah keras kayak begitu, Abah juga sangat sangat sayang pada anak-anak perempuannya, agak lebih dari yang laki-laki*. Kedatangan Abah ke Pondok, adalah kesempatan emas yang gak pernah aku sia-siakan. Karena disaat Abah datang itulah, beliau akan mengabulkan apapun yang kuminta.
“Beli ini bah, beli itu… mau bayar ini, mau bayar itu” ..
Dan Abah dengan tetap tersenyum menjawab:
“Silakan…. buat anak-anak Abah apa sih yang gak boleh? Asal tetap betah dipondok, rajin belajar, jangan pernah melanggar peraturan, itu udah cukup buat Abah”
Duuhh… manis banget kan?
Aku tau, Abah gak selalu kelebihan uang, tapi kalo untuk urusan sekolah, Abah gak akan pernah bilang “Tidak bisa atau Tidak ada”. Sebab kata Abah, dengan anak-anaknya terus bersekolah, maka rezeki juga akan selalu datang. Jadi gak ada deh kamusnya “Gak bisa sekolahin anak karena gak ada biaya”. Kata Abah, itu adalah prinsip yang salah,…
“Allah kan Maha Melihat setiap niat kita, dan anak-anak adalah titipan-Nya,… kalau yang dititipi senantiasa menjaga dan berusaha untuk memberikan yang terbaik buat titipan tersebut, niscaya Yang Menitipkan akan senang dan selalu menolongnya”*. Begitu…
Duh, jadi kangen deh sama Abah,… 
Posted by bunayya











![Validate my RSS feed [Valid RSS]](valid-rss.png)
